Bidadari dan Penggembala

Bidadari adalah makhluk baik hati tak bersayap, hidup di surga namun berbagi pesona pada dunia fana. Bidadari turun dari kayangan, hanya membawa seberkas kebaikan yang tak akan habis dimakan usia. Bidadari turun membawa kasih untuk dibagikan bagi yang menemukannya, dengan mimpi ia telah menjadi orang yang tepat untuk orang yang tepat.

Penggembala adalah simbol keputusasaan, mencari makna hidup yang tak berujung dengan mimpi ia berhenti melacurkan waktu dan energi untuk berfikir tentang fana. Penggembala selalu datang, selalu ada di lembah dengan kawanannya. Penggembala selalu berdiam, memerhatikan kawanannya semakin gemuk, semakin bagus, semakin tua. Penggembala selalu melihat bidadari turun setiap fajar dan kembali setiap senja, kadang kantong kebaikannya sudah menipis hingga bidadari terlihat lelah. Penggembala selalu tahu bidadari ada, menebar kasih untuk mereka yang tidak tepat. Penggembala menyayangkan bidadari yang bodoh.

Bidadari selalu melihat penggembala. Bidadari tahu penggembala selalu ada disana, mengawasi bidadari. Bidadari terlalu terhanyut dengan konglomerat karismatik yang seolah memberi kesetaraan kepadanya. Bidadari malang, tidak tahu bahwa orang yang tepat bukan dari bagaimana awal mereka bertemu.

Bidadari malang, menghabiskan kesabaran dan kebaikan hatinya untuk karisma bercahaya semu. Bidadari tak bisa kembali ke kayangan tanpa kebaikan hati. Bidadari putus asa, datang di lembah penggembala pada malam hari. Tidak memiliki impian, kebingungan jika ia berubah menjadi manusia biasa yang tidak baik. Lalu penggembala datang, menemani bidadari di malam dingin, di bawah satu-satunya pohon yang meneduhkan pikiran mereka. Penggembala yang tidak sempurna mendapatkan waktu  bidadari serba baik. Penggembala tidak tahu bahwa bidadari senang akan kehadirannya. Penggembala tidak tahu bahwa bidadari berjanji akan selalu menemaninya, sampai mereka terpisah. Penggembala menjanjikan keamanan, bidadari menjanjikan kenyamanan.

Penggembala selalu berhasil mengembalikan keyakinan pada bidadari, begitu pula bidadari. Maka bidadari tidak ingin terbang ke kayangan lagi. Baginya, penggembala sudah menjadi bagian dari kayangan, seri tidak sempurna. Baginya, penggembala sudah menjadi kebahagiaan yang tiada tara, seri sempurna. Baginya, bahagia mengalahkan karisma.

Bidadari tidak tahu kawanan gembala perlu perhatian penuh penggembala, maka bidadari membagi separuh hati penggembala. Bidadari tidak tahu penggembala harus pulang untuk diri sendiri, maka bidadari membagi separuh waktu penggembala. Bidadari tidak tahu seluruh dunia yang penggembala perjuangkan, maka bidadari memberi dunianya untuk penggembala.

Bidadari yang malang. 3 purnama ia tak mengadu pada ibu peri. Maka penggembala memberikan segalanya agar bidadari bahagia. Penggembala bahagia ketika bidadari bahagia. Penggembala tidak egois, tidak ingin bidadari menangis tiap malam yang selalu ia dengar ketika bidadari terbangun sendu. Maka terbanglah bidadari dengan separuh kebaikan hati penggembala dan separuh kebaikan hatinya, bidadari-separuh-manusia.

Penggembala selalu berada di tempat yang sama untuk bidadari. Bidadari selalu kembali untuk penggembala. Penggembala tidak perlu melihat bidadari tersiksa dengan konglomerat karismatik, ia hanya harus meminta kepada ibu peri agar bidadari bahagia. Bidadari tidak perlu melihat penggembala terdiam sendu, ia hanya harus meminta kepada ibu peri agar penggembala bahagia. Sekali lagi, penggembala bahagia jika bidadari bahagia. Penggembala tidak perlu menunggu sebagian belas kasih bidadari, bidadari akan memberikan segalanya. Sekalipun ia tidak bisa kembali ke kayangan, ia tetap memberikan segalanya.

Bidadari menyayangi penggembala dengan segala yang ia punya, dengan segala dosa dan pujian yang ia punya. Penggembala menyayangi bidadari dengan segala yang ia punya, dengan waktu dan energi yang ia dapatkan dari tawa bidadari.

Tapi bidadari dan penggembala tidak tahu.

Komentar

Postingan Populer