Jebakan Cinta Pertama!


Tahu buku terbitan ‘bukune’ yang judulnya Cerita Hati: Ini Cinta Pertama? Itu novel yang isinya kumpulan cerpen cinta pertama mereka para pengarang. Walaupun ceritanya nggak muluk-muluk, tapi itu slice of life untuk remaja SMP seusia saya.

Ada satu judul, Jebakan Cinta Pertama! saya tertarik setelah melihat biografi singkat pengarangnya (fotonya di London gitu).

Ceritanya…ya sama seperti yang saya bilang tadi. Nggak muluk-muluk. Berhubung saya juga dapet tugas mengubah cerpen menjadi drama, ini saya ketik ulang isi cerpennya.

Di antara sekian paragraf, favorit saya adalah ini:

"Cinta pertama adalah kekacauan. Kacau, karena nggak pernah saya rasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan yang membuat dunia saya hanya tentangnya, dan ini untuk kali pertama saya merasa seperti ini, dan ini justru masalah terbesarnya.
Ketika dunia kita hanya tentang dia, apapun perasaan kita saat itu, tergantung bagaimana respons si dia atau imajinasi kita tentangnya. Apakah dia akan membalas cinta kita? Apakah dia akan menerima dengan baik telepon kita? Apakaha dia akan membalas sapaan kita?
Senyum kita tergantung dia. Diam kita tergantung dia. Bodohnya, nafsu makan kita pun ditentukan oleh dia.
Ah, Dit, tapi perasaan seperti itu kan standar kalau jatuh cinta. Iya, kan?
Iya, katanya kita memang tidak pernah terbiasa dengan cinta. Maksudnya, setiap jatuh cinta, kita pasti akan merasakan “kekacauan” tersebut. Kita seperti nggak pernah belajar dari pengalaman. Berkali-kali jatuh cinta, berkali-kali itu pula kita merasakan “kekacauan” itu. Parahnya, sedikit saja dosis cinta itu berlebih, efeknya bahaya buat jiwa."

Teoritis, ya? Iya, itu prolognya. Lalu ada di bagian hampir akhir.

"Cinta itu katanya bagaimana menaklukkan hati orang lain. Itu benar. Tapi, pengalaman saya di masa lalu itu justru mengajarkan saya bahwa jatuh cinta itu adalah bagaimana menaklukkan diri sendiri. Bagaimana menaklukkan rasa takut tidak dicintai yang bisa jadi dibisikkan setan-setan pemuja kejombloan."

Saya sebagai jomblo ngenes cukup prihatin melihat kondisi kejiwaan orang-orang yang senasib dengan saya. Sendirian. Tidak berpegangan. Well, dalam konteks tersirat ya. Memang siapa mau berpegangan dengan tangan kasar yang sering cuci-cuci ini? *menatap nanar*. Sudah ya, jaa ne! ^^v

Komentar

Postingan Populer